Temu wicara
Pemanfaatan feromon seks dalam pengendalian ulat bawang (Spodoptera
exigua)
[20 Juli 2006 ]
BB-Biogen bekerja sama dengan Dinas
Pertanian, Kehutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Brebes pada tanggal
20 Juli 2006 menyelenggarakan acara “Temu Wicara Pemanfaatan Feromon
Seks dalam Pengendalian Ulat Bawang (Spodoptera exigua)”.
Acara ini merupakan diselenggarakan dalam rangka upaya sosialisasi mengenai
pemanfaatan feromon seks untuk pengendalian ulat bawang.
Acara yang digelar di Desa Limbangan Kulon, Kecamatan Brebes tersebut
dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Konservasi Tanah
Kabupaten Brebes, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Brebes, aparat
Pemda Brebes, beberapa staf peneliti dari BB-Biogen maupun instansi
lainnya, para staf penyuluh lapang, petani serta undangan lainnya. Antusias
dari pihak Pemda Brebes maupun petani sangat tinggi terhadap teknologi
pengendalian ulat bawang menggunakan feromon seks yang disosialisasikan
ini. Mereka berharap produk feromon seks tersebut dapat segera tersedia
dan dapat diperoleh para petani dengan mudah.
Seperti diketahui bahwa Brebes merupakan sentra produksi bawang merah,
yang memiliki lahan produksi seluas lebih kurang 20.000 hektar. Di daerah
ini hama ulat bawang (Spodoptera exigua) memiliki arti yang
sangat penting mengingat tingkat serangannya dapat mencapai 21% dari
lahan produksi yang ada. Hingga saat ini teknologi pengendalian yang
masih dianggap paling efektif adalah menggunakan insektisida, dengan
tingkat penggunaan yang sangat tinggi. Cara ini dikombinasikan dengan
pengendalian menggunakan perangkap lampu (light trap).
Feromon merupakan senyawa yang dilepas oleh salah satu jenis serangga
yang dapat mempengaruhi serangga lain yang sejenis dengan adanya tanggapan
fisiologi tertentu. Feromon serangga dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan
serangga hama baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu digunakan
dalam hal: pemantauan serangga hama (monitoring), perangkap
massal (mass trapping), pengganggu perkawinan (matting
distruption), maupun kombinasi antara feromon sebagai atraktan
dengan insektisida atau patogen serangga sebagai pembunuh (attracticide).
Meskipun baru diujicobakan di lapang dalam skala terbatas, aplikasi
feromon seks tersebut ternyata menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan.
Percobaan lapang dilakukan pada lahan bawang milik 3 petani dengan tiga
varietas yang berbeda, yang meliputi areal seluas 0,5 hektar. Varietas
bawang yang ditanam adalah Bima Bangkok, Bima Curut dan Bima Kelapa
(sebagai kontrol tanpa perlakuan feromon seks). Feromon seks mulai diaplikasikan
saat tanaman berumur satu minggu, untuk selanjutnya pemasangan kedua
dilakukan saat tanaman berumur 27 hari. Perangkap feromon berupa stoples
plastik yang dirancang khusus, di mana di bagian atas digantungkan senyawa
feromon seks dan pada bagian bawahnya diiisi dengan air sabun. Perangkap
feromon ditempatkan pada pinggiran tanaman bawang, penempatan perangkap
feromon secara acak dan berjarak 15 m dari masing-masing perangkap.
Perangkap feromon ditempatkan pada ketinggian 30 cm di atas permukaan
tanah. Sebanyak 24 perangkap feromon dipasang untuk luasan lahan 0,5
hektar.
Hasil
percobaan di lapang menunjukkan bahwa tanaman bawang yang tidak diperlakukan
dengan feromons seks membutuhkan penyemprotan insektisida sebanyak 12
kali untuk (mengendalilkan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan
Grandong). Hal ini berarti setiap 2 hari sekali dilakukan penyemprotan
untuk mengendalikan hama pada tanaman bawang. Sementara itu tanaman
bawang yang diperlakukan dengan feromon seks hanya disemprot sebanyak
3 kali (mengendalilkan ulat bawang) dan 3 kali (untuk mengendalikan
Grandong). Dalam hal ini penyemprotan kedua dilakukan karena saat percobaan
dilakukan terjadi serangan Grandong di pertanaman bawang. Rata-rata
dalam semalam tidak kurang dari 200-an serangga jantan dapat terperangkap
di dalam perangkap feromon.
Dr. Made Samudra (staf peneliti BB-Biogen) yang memperkenalkan feromon
seks tersebut mengungkapkan, dibandingkan dengan cara pengendalian yang
lainnya penggunaan feromon seks memiliki beberapa kelebihan:
- Teknologi pengendalian menggunakan feromon seks
bersifat ramah lingkungan, tidak mengakibatkan terjadinya pencemaran
lingkungan.
- Bersifat selektif untuk spesies hama tertentu,
tidak demikian halnya jika menggunakan perangkap lampu yang akan memerangkap
semua jenis serangga. Ada kalanya serangga yang berperan sebagai musuh
alami dari serangga hama tertentu juga akan terperangkap.
- Mampu menekan populasi serangga secara nyata.
Selama siklus hidupnya, serangga ulat bawang hanya melakukan satu
kali kawin. Dengan terperangkapnya serangga-serangga jantan, maka
diharapkan akan terdapat banyak serangga betina yang tidak terkawini.
Serangga-serangga betina yang tidak dikawini tersebut, dalam 2-3 hari
akan mengeluarkan telur-telur yang bersifat steril (mandul) untuk
selanjutnya mati.
- Biaya yang dialokasikan lebih murah. Sebagai
perbandingan penggunaan perangkap lampu membutuhkan biaya sekitar
1-2 juta rupiah tiap hektarnya, belum termasuk tambahan biaya untuk
penyemprotan insektisida. Sementara itu, penyemprotan insektisida
secara intensif dapat memakan biaya hingga 6 juta rupiah.
Pengembangan feromon seks saat ini
memang baru diprioritaskan untuk ulat bawang Spodoptera exigua.
Dalam skala laboratorium saat ini di BB-Biogen sedang diteliti pula
untuk pengembangan feromon seks bagi spesies hama ulat bawang yang lainnya.
Interaksi antara senyawa feromon seks dengan spesies serangga hama ternyata
bersifat spesifik geografis sehingga dalam hal ini perlu dilakukan pengkajian
yang cukup mendalam sebelum dilakukan uji di lapang.
Bagaimana kesiapan produk feromon seks tersebut untuk segera dilepas
di pasar ?
”Dalam tahun 2006 ini, teknologi tersebut sebenarnya baru diujikan
dalam skala 1 hektar. Bertolak dari hasil pengujian yang sangat bagus
ini, tahun mendatang direncanakan pengujian akan ditingkatkan pada lahan
seluas 5 hektar. Namun demikian diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu
lama feromon seks untuk Spodoptera exigua tersebut dapat segera
diproduksi dan dipasarkan, tentunya setelah memperoleh ijin dari Komisi
Pestisida” kata Dr. Karden Mulya (Kabid Kerjasama dan Pendayagunaan
Hasil Penelitian, BB-Biogen).