header header

Berita

Liputan Seminar Nasional
Bioetika Pertanian 2008:
Tinjauan Bioetika Menuju Pertanian Berkelanjutan yang Selaras dengan Alam


[29 Mei 2008]

Kemajuan pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang ilmu-ilmu hayati, menghasilkan kemampuan rekayasa genetika yang semakin berkembang. Di tengah maraknya produk teknologi yang dikenal sebagai organisme termodifikasi genetik, perlu pengkajian dan peraturan/regulasi yang lebih dalam disamping untuk memenuhi kebutuhan keamanan hayati dan keamanan pangan produk transgenik. Namun saat ini tinjauan agama, sosial budaya, etika dan estetika sepertinya masih kurang mendapat perhatian dalam pengenalan dan pemanfaatan produk rekayasa genetika dalam masyarakat Indonesia.
Seminar yang dilaksanakan tanggal 29 Mei 2008 di Auditorium I BB-Biogen Bogor ini merupakan Seminar Nasional Bioetika pertama yang diadakan di Indonesia. Kegiatan ini terselenggara dari kerjasama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan Komisi Bioetika Nasional dan Kedeputian Bidang Dinamika Masyarakat (KNRT). Acara ini juga didukung oleh Kedeputian Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan (KLH), Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (Peripi), Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia (Permi) dan Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia (PBPI). Seminar dihadiri oleh 203 peserta dari berbagai instansi pemerintahan pusat dan daerah, perguruan tinggi, LSM, tenaga pengajar (guru) dan perusahaan nasional.
Seminar ini diharapkan dapat menjadi wahana bagi kita untuk melihat sampai seberapa jauh kita telah mengenal, memahami dan mengimplementasikan aspek bioetika dalam aspek-espek kegiatan di sektor pertanian, baik di bidang penelitian, pengembangan dan perdagangan.
Dari berbagai pengamatan tentang pelembagaan masalah bioetika di berbagai negara, dapat dilihat bahwa proses pelembagaan ini juga menjadi gejala yang belum berlangsung lama. Dalam perkembangannya di Indonesia, masalah bioetika mulai dibahas secara terbatas dalam berbagai forum ilmiah dan forum komunikasi ilmuwan pada awal tahun 2000an. Pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung mulai membuka jalan untuk mencari dan menjadikan norma bioetika sebagai bagian integral pengelolaan ilmu pengetahuan secara aktif dan nyata.
Dari segi kelembagaan yang terkait dengan bioetika, Indonesia sudah mempunyai Komisi Bioetika Nasional yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Bersama Kementerian Riset dan Teknologi, Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian. Komisi Bioetika Nasional dibentuk sejak tahun 2004 dan kepengurusan yang pertama akan berakhir pada tahun ini. Saat ini Komisi Bioetika Nasional diketuai oleh Prof. Dr. Umar Anggoro Jenie. berbagai kegiatan telah dilakukan antara lain yang berkaitan dengan sel puncak atau stem cell, pendidikan bioetika dan etika dalam pengelolaan sumber daya genetik. Rancangan Pedoman Umum tentang Bioetika tentang sumber hayati sedang disusun untuk dijadikan acuan dalam melakukan penilaian etika dalam pemanfaatan sumber hayati.
Selanjutnya, kegiatan terdepan yang menyangkut isu Bioetika Internasional, pada tanggal 3-7 November 2008, Indonesia akan menjadi tuan rumah The Ninth Asian Bioethics Conference yang akan diselenggarakan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Isu bioetika yang akan didialogkan dan diperdebatkan pada konfrensi berikutnya ini tidak hanya yang terkait mengenai bioteknologi yang modern saja, tetapi juga tinjauan Bioetika terhadap isu-isu lain seperti konversi bahan pangan menjadi bahan bakar, termasuk yang ramai dibahas dan akan dibahas di FAO di Roma, ekspansi perkebunan kelapa sawit dikaitkan dengan deforestrasi dan pemanasan global, keseragaman pangan dikaitkan dengan keanekaragaman pangan dan ketahanan pangan, serta akses dalam pembagian keuntungan dalam sumber daya genetik .
Seminar ini dibuka oleh Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Achmad Suryana. Dalam sambutannya, Kepala Badan Litbang Pertanian menyampaikan beberapa pokok pikiran terkait dengan isu bioetika pertanian yang berkembang di Indonesia saat ini.
Seperti diketahui bersama bahwa pangan merupakan kebutuhan pokok manusia. Ketersedaan pangan dalam jumlah yang mencukupi merupakan hak masyarakat yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, pemerintah beserta seluruh lapisan masyarakat berupaya terus-menerus untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Kebutuhan akan pangan, dan juga berbagai kebutuhan yang lainnya (pakan, perumahan, estetika dan sebagainya) sebagian besar terpenuhi dari sektor pertanian. Kebutuhan tersebut dari waktu ke waktu terus meningkat, seiring dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, daya beli yang makin meningkat dan perubahan selera masyarakat. Kebutuhan produk pertanian yang semakin meningkat tersebut menantang dan menuntut kita semua untuk selalu berpikir kreatif, inovatif dan bijaksana dalam menghasilkan produk-produk pertanian.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dewasa ini merupakan buah pemikiran dari para peneliti kreatif kita. Keberhasilan dalam pemanfaatan hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak terlepas dari kegiatan diseminasi dan upaya adopsi oleh masyarakat pada umumnya. Hal tersebut juga tidak terlepas dari keberhasilan upaya kita untuk meyakinkan para pengguna teknologi bahwa teknologi tersebut bersifat ilmiah, ekonomis serta dampak terhadap lingkungan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun pada kenyataannya tidak semua masyarakat mau menerima teknologi-teknologi inovatif tersebut. Hal tersebut dapat kita pahami karena karakteristik masyarakat yang majemuk. Masyarakat juga semakin cerdas dalam menentukan pilihannya, dalam banyak hal mereka ingin terlibat lebih jauh dalam setiap pengambilan keputusan untukn dalam ranga menigkatkan taraf hidup mereka. Hal tersebut yang selama ini kita hadapi, salah satunya, adanya sebagian masyarakat yang masih menolak terhadap produk bioteknologi sehingga berdampak makin panjangnya jalan upaya pengambilan keputusan dalam pemanfaatan produk bioteknologi. Lambatnya aksepsibilitas produk bioteknologi sedikit banyak akan mempengaruhi semangat para peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan bioteknologi. Masyarakat di beberapa negara yang telah dengan cepat menerima produk bioteknologi modern ini, akan lebih dahulu dan cepat merasakan secara langsung manfaatnya, sementara masyarakat yang lambat dan ragu-ragu menerima masih terbelenggu pada pertanyaanmengenai mudharat dari produk bioteknologi tersebut. Dalam perjalanan pengembangan suatu produk bioteknologi, sebenarnya telah melewati tahapan-tahapan pengamanan standar, termasuk di dalamnya tahapan kajian resiko (risk assessment) dan kajian pengelolaan (risk management). Namum demikian sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa hal tersebut hanyalah sebuah persyaratan / pendekatan ilmiah saja dan masih dipandang belum mencukupi oleh sebagian masyarakat. Msyarakat perlu untuk melihat pertimbangan dari segi kelayakan ekonomis untuk pada akhirnya melakukan pengambilan keputusan alhir yang juga didasarkan pada pertimbangan sosial dan politik.
Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik pada pasal 3 menyebutkan ”pengaturan yang diterapkan dalam peraturan pemerintah ini menggunakan pendekatan kehati-hatian dalam rangka mewujudkan keamanan lingkungan, keamanan pangan dan atau pakan dengan didasarkan kepada metode ilmiah yang sahih serta memperhatikan kaidah agama, sosial budaya, etika, dan estetika”. Namun sampai saat ini, kita belum mempunyai instrumen atau perangkat yang kita sepakati bersama untuk dijadikan acuan dalam penilaian etika. Pengambilan keputusan dengan berdasarkan penilaian pendekatan ilmiah dan non-ilmiah yang melibatkan partisipasi masyarakat diharapkan dapat mempermudah akseptabilitas produk bioteknologi secara berkelanjutan dengan resistensi yang minimal.
Beberapa isu bioetika pertanian tidak hanya terkait dengan bioteknologi modern saja, namun juga dapat dikaitkan dengan isu-isu lainnya seperti konversi bahan pangan menjadi bahan bakar yang saat ini menjadi pembicaraan, invasi perkebunan kelapa sawit dikaitkan dengan deforestrasi dan pemanasan global, keseragaman pangan dikaitkan dengan keanekaragaman/diversifikasi pangan dan ketahanan pangan, akses dan pembagian keuntungan (benefit sharing) dalam pemanfaatan sumberdaya genetik.
Dalam seminar Nasional Bioetika Pertanian Pertama ini, materi pembahasan bioetika bidang pertanian dikelompokkan menjadi empat, yaitu: (1) tanaman; (2) ternak; (3) mikroba pertanian, dan (4) bioteknologi pertanian. Di samping itu dibahas pula peran Komisi Bioetika Nasional terkait dengan pengembangan iptek dan perlunya prinsip-prinsip bioetika bagi pengembangan iptek nasional. Materi tersebut dituangkan ke dalam dua kelompok makalah, yaitu: makalah utama dan makalah pendukung. makalah utama terdiri atas 6 materi dan presentasi pendukung sebanyak 15 makalah.
Makalah utama sesi pertama dibawakan oleh Prof. Dr. Umar Anggara Jenie (Ketua KBN) dengan judul “Isu Global tentang Bioetika”. Selanjutnya Prof. Dr. Achmad Suryana (Ketua Komnas SDG) yang diwakili oleh Dr. Sutrisno (Sekretaris Komnas SDG) menyampaikan tentang “Isu Bioetika yang Terkait dengan Penelitian, Pengembangan, Komersialisasi dan Pengelolaan SDG Tanaman”. Dan makalah utama yang ketiga berjudul “Isu Biotetika yang Terkait dengan Penelitian, Pengembangan dan Komersialisasi Produk Bioteknologi Pertanian” dibawakan oleh Dr. Drh. Bambang Purwantara, MSc (Ketua PBPI). Adapun moderator pada sesi pertama ini adalah Prof. Dr. Ir. Carunia M. Firdausy, MA. APU dari KNRT.
Presentasi makalah utama sesi kedua dimoderatori oleh Ir. Sri Setiawati, MA dari KLH. Materi yang disajikan berjudul “Isu Nasional tentang Bioetika” dibawakan oleh Dr. Amru Hydari Nazif (Sekretaris KBN), “Isu Bioetika yang terkait dengan Penelitian, Pengembangan, Komersialisasi dan Pengelolaan SDG Ternak” oleh Prof. Dr. Kusuma Diwyanto (Ketua PERIPI) serta “Isu Bioetika yang terkait dengan Penelitian, Pengembangan Komersialisasi dan Pengelolaan SDG Mikroba” oleh Dr. Koesnandar, MEng (Wakil Ketua Umum PERMI) yang diwakili oleh Dr. Is Helianti.
Daftar judul makalah berikut pemrasaran pada makalah utama adalah sebagai berikut:

  1. Isu Global tentang Bioetika
    (Prof. Dr. Umar Anggara Jenie - Ketua Komisi Bioetika Nasional / KBN)
  2. Isu Bioetika yang Terkait dengan Penelitian, Pengembangan, Komersialisasi dan Pengelolaan SDG Tanaman
    (Prof. Dr. Achmad Suryana - Ketua Komnas SDG, yang diwakili oleh Dr. Sutrisno (Sekretaris Komnas SDG))
  3. Isu Biotetika yang Terkait dengan Penelitian, Pengembangan dan Komersialisasi Produk Bioteknologi Pertanian
    (Dr. drh. Bambang Purwantara, MSc - Ketua PBPI)
  4. Isu Nasional tentang Bioetika
    (Dr. Amru Hydari Nazif - Sekretaris KBN)
  5. Isu Bioetika yang terkait dengan Penelitian, Pengembangan, Komersialisasi dan Pengelolaan SDG Ternak
    (Prof. Dr. Kusuma Diwyanto - Ketua PERIPI)
  6. Isu Bioetika yang terkait dengan Penelitian, Pengembangan Komersialisasi dan Pengelolaan SDG Mikroba
    (Dr. Koesnandar, MEng - Wakil Ketua Umum PERIPI, yang diwakili oleh Is Helianti)

Untuk 15 makalah pendukung, presentasi dan diskusi dilaksanakan dalam dua sesi yang dilaksanakan secara pararel di dua tempat, yaitu di auditorium I BB-Biogen dengan moderator Dr. Karden Mulya dan notulis Dr. Made Tasma, dan di Aula Balittro dengan moderator Ir. Bambang Setiadi dan notulis Dr. M. Yunus. Makalah dibawakan oleh peserta dari berbagai institusi pemerintahan dan perguruan tinggi dengan topik dan pemrasaran sebagai berikut :

  1. Bioetika: Konservasi Serangga dan Tanaman Transgenik Tahan Hama
    (Bahagiawati Amirhusin - Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor)
  2. Bioetika Penggunaan Agens Hayati Untuk Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
    (Supriadi - Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor)
  3. Etika Perdagangan Produk Peternakan (Kasus Peredaran Daging “Glonggong”)
    (Dwi Priyanto - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  4. Eksplorasi Hutan untuk Perkebunan Kelapa Sawit dan Integrasinya dengan Ternak
    (Dwi Yulistiani dan Wisri Puastuti - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  5. Bioetika dalam Pemanfaatan Sumberdaya Ternak pada Saat Hari Raya Qurban
    (Vyta W. Hanifah - Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor )
  6. Peluang Transgenik pada Tanaman Pakan Ternak
    (Bambang R. Prawiradiputra - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  7. Bioetika Menunjang Pembangunan Berkelanjutan
    (Ashari - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  8. Kajian Bioetik dan Kesejahteraan Ikan (Fish Welfare) sebagai Sumberdaya dan Produk Ikan
    (Wartono Hadie dan Lies Emmawati Hadie - Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jakarta)
  9. Bioetika dalam Pengelolaan Lahan Irigasi dan Pemanfaatan Air
    (Yovita Anggita Dewi - Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor)
  10. Perspektif Bioetika dalam Bioteknologi Reproduksi
    (Endang Triwulanningsih - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  11. Bioetika dalam Penanganan Kasus Flu Burung dan Kaitannya dengan Pelestarian Sumberdaya Genetik Ayam Lokal
    (Tike Sartika - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  12. Ekspor Impor Ikan Hias Tinjauan Segi Etika dan Fish Welfare
    (Tatik Mufidah, A.M. Lusiastuti, dan H. Supriyadi - Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jakarta)
  13. Penggunaan Sumber Daya Genetik Isolat Mikrobia dan Hasil Rekayasa Genetik di Lingkungan Alami: Pentingnya Sebuah Kajian Bioetika
    (Jumailatus Solihah - Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
  14. “Genosida” Rumpun Ternak Lokal: Manfaat dan Kerugiannya
    (Bambang Setiadi - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  15. Pengembangan Vaksin Penyakit Jembrana pada Sapi Bali Berbasis Protein Rekombinan
    (Endang Tri Margawati dan A. Utama Indriawati - Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI)

Selain itu, disajikan pula sebanyak 15 presentasi poster yang meliputi:

  1. Perbaikan Mutu Tepung Jagung dan Sorgum dengan Sentuhan Bioteknologi secara Enzimatik dan Memenuhi Bioetika
    (Suarni - Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros)
  2. Dampak Bioetika terhadap Usahatani Tanaman Jagung (Studi Kasus Petani di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan)
    (Margaretha S.L., Marwah, dan Suarni - Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros)
  3. Potensi Kratok (Phaseolus lunatus LINN) dalam Meningkatkan Diversifikasi Pangan dan Industri
    (Abdul Munip - Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang)
  4. Sequence Analysis of 2b Gene of Australian CMV Isolates
    (Emy Sulistyowati - Indonesian Research Institute for Tobacco and Fiber Crops, Malang)
  5. Contribution of Microbial Biomass C to Aggregate Stability of Sandy Soil Added with Clay and Organic Matter
    (Djajadi - Indonesian Research Institute for Tobacco and Fiber Crops, Malang)
  6. Potensi Patogen Serangga dalam Pengendalian Hama Kapas secara Hayati dan Upaya Pengembangannya
    (I G.A.A. Indrayani dan Deciyanto Soetopo - Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang)
  7. Potensi Hasil Galur-galur Padi Sawah Dataran Rendah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
    (Meksy Dianawati, Irma Noviana, dan Moch. Noch - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat)
  8. Monitoring Hama Penggerek Batang Padi dengan Sex Feromon di Desa Citarik, Kecamatan Tirtamulya, Karawang
    (Meksy Dianawati - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat)
  9. Akselerasi Inovasi Teknologi Usaha Budidaya Salak Pondoh Organik melalui Penerapan SPO-GAP (Good Agricultural Practice) di Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman
    (Sinung Rustijarno dan Wiendarti I.W. - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta)
  10. Kajian Ekonomis dan Pengembangan Pengetahuan Lokal Teknologi Budidaya Jeruk di Lahan Pasir Pantai Selatan Kabupaten Kulon Progo
    (Sinung Rustijarno dan Hano Hanafi - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta)
  11. Bioetika Pertanian dalam Kearifan Lokal di Indonesia
    (Ashari, E. Juarini, Broto Wibowo, dan Budhi Arsana - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  12. Bioetika Penggunaan Bahan Pangan Asal Ternak
    (Heti Resnawati - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  13. Program Crossbreeding Sapi Potong: Tinjauan Etika Pelestarian Plasma Nutfah
    (Lisa Praharani - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  14. Mempertahan Etika Budaya Tradisional Petani Indonesia
    (Hastono - Balai Penelitian Ternak, Bogor)
  15. Metode In Vivo pada Terapi Jus Lidah Buaya terhadap Luka Insisi Pseudomonas aeruginosa: Kajian Bioetika dan Animal Welfare
    (Lusiastuti, A.M. dan H. Pramudito - Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jakarta).

Halaman pencarian

Wisata Bioteknologi

Bagi Anda yang tertarik dan menaruh perhatian dengan bioteknologi, bagaimana ia diwujudkan dan perangkat apa yang diperlukan, maka kami membuka diri bagi kunjungan Anda [selengkapnya]

Mengenal Plasma Nutfah

marble dnaKita sudah sering mendengar istilah 'plasma nutfah' (germplasm). Namun sejauh mana Anda mengenal apa itu plasma nutfah tanaman pangan, arti penting dan beberapa kegunaannya bagi kesejahteraan manusia ? [selengkapnya]

Koleksi Buku & Majalah Baru Perpustakaan

marble dnaUntuk meningkatkan mutu layanan informasi, dalam tahun 2005 - 2006 perpustakaan BB-Biogen telah menambah koleksi beberapa buku dan majalah baru [selengkapnya]

Katalog Plasma Nutfah Tanaman Pangan Edisi I

marble dnaTelah terbit buku Katalog Plasma Nutfah Tanaman Pangan Edisi I tahun 2004, yang memuat informasi data paspor (asal aksesi) dari komoditas-komoditas plasma marble dnanutfah tanaman pangan yang dikoleksi di bank gen BB-Biogen. Untuk edisi tahun 2005, katalog ini juga telah tersedia dalam versi compact disc.

BB-Biogen
Jl. Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111, Indonesia
Telp. (0251) 338820, 337975 Fax. (0251) 338820

© 2004 Last updated on 20.10.2003 3:18